HARI Peduli Sampah Nasional sama sekali tidak bisa dilepaskan dari peristiwa memilukan berupa longsornya tempat pembuangan akhir Leuwigajah di daerah Cimahi.


Bencana luar biasa ini menjadi lembaran hitam dalam catatan manajemen utilitas kota di Indonesia.
Tragedi Leuwigajah 2005 terjadi akibat kombinasi anomali curah hujan ekstrem dan akumulasi gas metana dari tumpukan material organik yang menggunung tanpa sistem rekayasa ventilasi. Volume gas metana yang terperangkap di dalam tumpukan tersebut akhirnya memicu ledakan bertekanan tinggi secara mendadak. Ledakan berskala besar tersebut meruntuhkan struktur gunungan sampah dan menimbum permukiman padat warga yang berada di bawahnya.
Bencana mengerikan ini merenggu nyawa 157 orang yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung dan penduduk lokal. Selain jatuhnya ratusan korban jiwa, tragedi ini secara tragis menghapus eksistensi dua permukiman yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok dari peta geografis akibat tergulung material longsoran. Kejadian ini membuktikan secara empiris bahwa tumpukan limbah dapat berubah menjadi mesin pembunuh masal jika dikelola secara serampangan.
Peristiwa mematikan ini menyadarkan jajaran teknokrat dan masyarakat umum bahwa metode pembuangan terbuka memiliki risiko kehancuran sosiologis yang sangat tinggi. Pemerintah pusat menyadari urgensi mutlak untuk merumuskan regulasi yang lebih ketat demi mencegah terulangnya kejadian serupa pada masa depan. Oleh karena itu, tragedi nahas tersebut memicu lahirnya peringatan nasional agar seluruh lapisan masyarakat memelihara ingatan terhadap sejarah kelam tersebut.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama