Situasi arus balik Lebaran H+5 di jalur Cipanas terpantau terkendali meski volume kendaraan meningkat pada waktu-waktu tertentu. Petugas di lapangan memberlakukan sistem buka-tutup secara situasional untuk mengurai kepadatan, khususnya di titik rawan menuju kawasan Puncak.
Kasubag UPTD Terminal Cipanas, U. Saepudin, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas dilakukan secara fleksibel mengikuti kondisi arus kendaraan.
“Pemberlakuan buka-tutup dilakukan karena arus masih terpantau lancar, jadi sifatnya situasional untuk mengantisipasi kepadatan,” ujarnya.
Selain itu, diterapkan pembatasan operasional angkutan kota (angkot) berwarna kuning sebagai bagian dari kebijakan selama masa arus mudik dan balik Lebaran. Angkot diperbolehkan beroperasi pada tanggal 22, 23, dan 24, kemudian dilakukan penyesuaian pada tanggal 25 dan 26. Sementara itu, pada tanggal 27 hingga 28 angkot dilarang beroperasi sementara guna mendukung kelancaran arus kendaraan.
Menurut U. Saepudin, kebijakan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah yang juga disiapkan untuk keberlanjutan ke depan.
“Tujuan utamanya karena ini program pemerintah, sekaligus kita siapkan cadangan untuk kesinambungan ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, KSO UPTD Cipanas, E. Jaenudin, menambahkan bahwa pembatasan operasional ini diimbangi dengan pemberian kompensasi kepada para sopir angkutan umum.
“Program ini sangat membantu para sopir, apalagi sudah berjalan selama dua tahun. Dengan adanya kompensasi, para sopir tetap mendapatkan dukungan meski ada pembatasan operasional,” ungkapnya.
Ia menegaskan, besaran kompensasi tersebut telah ditentukan secara resmi oleh pemerintah, bukan berdasarkan pengajuan para sopir.
Pihak UPTD Terminal Cipanas juga terus melakukan sosialisasi kepada para pengemudi agar memahami jadwal operasional yang telah ditetapkan. Diharapkan, kebijakan ini dapat berjalan efektif tanpa menimbulkan kebingungan di lapangan.
Langkah ini tidak hanya menjaga kelancaran arus balik, tetapi juga menjadi bagian dari penataan sistem transportasi yang lebih tertib dan berkelanjutan di wilayah Cianjur.
Azizah

