Seberapa Siap RI Hadapi Krisis Pasokan Minyak akibat Perang Iran? WARTATNIPOLRI.NET 12 Maret


JAKARTA, WARTATNIPOLRI.NET Penutupan Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, mengguncang pasar energi dunia. Jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan minyak global itu berubah menjadi titik rawan setelah perang terjadi pada akhir Februari 2026.

Teheran menutup selat tersebut pada 1 Maret 2026, dan sebelumnya membatasi sebagian jalur dengan alasan keamanan" terkait latihan militer Garda Revolusi Iran, pasukan elite yang dibentuk untuk melindungi rezim dan kepentingan strategis negara.

Data Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur ini pada 2024, jumlahnya setara hampir seperlima konsumsi cairan petroleum dunia.
Iran Belum Menyerah, IRGC Luncurkan Gelombang ke-40 Sejumlah Rudal Balistik dan Jelajah
Meski Terdampak Perang, Pemerintah Jamin BBM Selama Lebaran Mencukupi

Iran Bakal Sikat Kapal Minyak AS dan Israel yang Lewati Selat Hormuz, Trump Ngamuk

Dalam literatur energi global, Hormuz dikategorikan sebagai oil chokepoint, jalur sempit yang menjadi titik kritis dalam distribusi komoditas strategis.

Sekitar 84 persen minyak dan 83 persen gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang melintasi Hormuz dikirim ke negara-negara Asia, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, berdasarkan data yang dirangkum dari Detik.

Ketika konflik meningkat, harga minyak dunia merangkak naik dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia sekitar 70 dollar AS (sekitar Rp 1,18 juta) per barel menjadi kisaran 78 hingga 80 dollar AS (sekitar Rp 1,32-1,35 juta).

Bagi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor energi, perkembangan ini memunculkan pertanyaan mendasar.

Seberapa kuat sistem ketahanan energi nasional jika terjadi gangguan pasokan global

Tak Hanya Minyak, Dunia Juga di Ambang Krisis Pupuk Imbas Selat Hormuz Ditutup

Bahlil soal cadangan 20 hari: Aman atau rentan?
Konsumsi minyak nasional kini mencapai sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 600 ribu barrel per hari. Kesenjangan ini membuat Indonesia harus mengimpor sekitar satu juta barel minyak setiap hari.

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM nasional cukup untuk sekitar 20 hari. Namun, angka tersebut bukan mencerminkan cadangan strategis negara.

Pakar Energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan bahwa stok tersebut hanyalah persediaan yang terus berputar dalam rantai pasokan harian.

Sifat cadangan kita ini disebut sebagai operational inventory. Jadi, kita hanya mengandalkan cadangan yang ada di pasar. Kalau kurang, tinggal beli ke pasar, tinggal impor," jelas Yayan kepada DW Indonesia.

Ketika habis, bisa dibeli lagi ke pasar. Selama pasar buka, sistem ini berjalan. Namun, jika pasokan global terganggu dalam jangka panjang, tidak ada lapisan cadangan darurat di belakangnya.

Peringatan Keras AS, Israel Dilarang Serang Infrastruktur Minyak Iran

bejo sukirman
tenang aja kan wowou udah bilang mau bikin bbm dari jagung. kalau perlu bikin bbm dari mbg. apalagi wapresnya kan sangat ahli di bidang hilirisasi. makanya kalian tenang aja ya? negara lain harga bbm naik di indo nanti turun.

Jat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama