Garut.Wartatniplri.net - Seratus aksi telah dilalui Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut Namun pencapaian tersebut justru menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak berhenti ketika bibit ditanam.
Pesan itu kembali diwujudkan melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-100 di Blok Leuweung Panganten, Gunung Congkrang,pada Sabtu (5/9/2026). Bersama Danramil 1116/Cikajang, Kodim 0611/Garut, Kapten Inf Cacu Ruswandi beserta anggota, kegiatan kali ini difokuskan pada pemeliharaan dan penyiraman tanaman.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kolaborasi dalam menyambut HUT TNI ke - 81 Tahun 2026, mempertemukan semangat pengabdian TNI dengan gerakan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, mengatakan perjalanan menuju aksi ke -100 telah memberikan banyak pelajaran, terutama bahwa keberhasilan penghijauan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam.katanya
“Seratus aksi bukan berarti seratus kali selesai. Justru setiap aksi mengingatkan kita bahwa setelah menanam masih ada tanggung jawab untuk merawat. Kami telah melewati musim hujan hingga kemarau, dan di situlah konsistensi kita benar-benar diuji,” ujar H. Jaeni.
Menurutnya, penyiraman tanaman menjadi simbol sederhana dari keberlanjutan gerakan Kolaborasi Hijau. Ketika musim berubah dan kondisi alam semakin menantang, kepedulian terhadap tanaman harus tetap berjalan.
Sementara itu, Danramil 1116/Cikajang Kapten Inf Cacu Ruswandi menilai kolaborasi bersama masyarakat dalam kegiatan lingkungan merupakan bagian dari pengabdian TNI sekaligus momentum memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Momentum HUT TNI ke - 81 ini kami manfaatkan untuk hadir bersama masyarakat dalam kegiatan yang memberikan manfaat nyata. Merawat lingkungan adalah tanggung jawab bersama dan akan lebih kuat apabila dilakukan melalui gotong royong,” ungkapnya.
Ia berharap kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut, tidak hanya pada momentum peringatan HUT TNI, tetapi menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara berkelanjutan.
Perjalanan Kolaborasi Hijau dari aksi pertama hingga ke -100 telah melewati berbagai medan dan kondisi cuaca,di Musim hujan memberikan kesuburan, sementara musim kemarau menguji ketahanan tanaman sekaligus konsistensi para pegiat lingkungan.
Dari perjalanan tersebut lahir satu kesadaran sederhana: pohon yang ditanam membutuhkan waktu, perhatian dan kepedulian untuk benar-benar menjadi kehidupan.
Karena itu, Aksi Kolaborasi Hijau ke-100 bukanlah garis akhir. Ia menjadi titik untuk kembali melangkah dengan semangat yang sama menanam, merawat, memantau dan menjaga.
Dari Leuweung Panganten, kolaborasi TNI dan masyarakat kembali menegaskan bahwa menjaga alam tidak mengenal seragam, organisasi maupun batas kepentingan.
Satu pohon mungkin terlihat kecil,Namun seratus aksi adalah bukti bahwa kepedulian yang dilakukan bersama dan terus - menerus dapat menjadi gerakan.
Dari Tanam Menjadi Tumbuh,Dari Aksi Menjadi Tradisi.penutup
HbGun.

