GARUT .WARTA TNI POLRI.
Ketua Garut Indeks Perubahan Strategis (GIPS), Ade Sudrajat, menyoroti deklarasi pencalonan DR H Syakur Amin untuk posisi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut. Menurut Ade, deklarasi itu seharusnya bisa menjadi momen untuk melihat seberapa besar dukungan nyata dari kader dan pemilik suara di internal Partai Golkar.
Ade mengaku mendapat informasi dari salah seorang pengurus Pimpinan Kecamatan (PK) bahwa kehadiran para ketua PK dalam deklarasi tersebut belum menunjukkan dukungan maksimal. Disebutkan, secara fisik hanya sekitar 13 ketua PK yang hadir.Rabu (1/09/2026).
Meski begitu, informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait di internal Partai Golkar.
“Ini seharusnya jadi catatan buat DR H Syakur Amin agar lebih hati-hati menerima laporan. Jangan sampai laporan yang diterima berbeda dengan kondisi sebenarnya di lapangan,” ujar Ade Sudrajat.
Menurutnya, perebutan posisi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut merupakan urusan internal partai yang penting untuk menentukan arah organisasi ke depan. Karena itu, dukungan para pemilik suara, terutama para ketua PK, tidak bisa diabaikan.
Ade menilai, posisi Syakur Amin sebagai kepala daerah juga punya konsekuensi tersendiri. Sebagai Bupati Garut, Syakur Amin memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pemerintahan berjalan baik dan pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal.
“Dalam pencalonan Ketua DPD Golkar Garut, Pak Syakur Amin mempertaruhkan reputasinya sebagai Bupati. Menurut saya, lebih baik Bapak Syakur Amin fokus ke pemerintahan dan rakyat,” tutur Ade.
Ia menambahkan, masyarakat Garut membutuhkan perhatian penuh dari kepala daerah. Berbagai persoalan, mulai dari pembangunan, pelayanan publik, ekonomi masyarakat, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, sampai masalah sosial, membutuhkan konsentrasi dan kepemimpinan yang kuat.
Karena itu, menurut Ade, jika Syakur Amin memilih lebih fokus mengelola pemerintahan dan mengurus kepentingan masyarakat Garut, pilihan tersebut justru bisa dinilai lebih bijaksana.
“Banyak masyarakat yang menyarankan agar Pak Syakur lebih baik mengelola Pemda dan mengurus masyarakat Garut. Urusan partai biarlah diserahkan kepada
kader yang selama ini sudah berdarah-daging membesarkan partai. Menurut saya, itu lebih beretika dan bermartabat,” katanya.
Ade juga menyoroti perjalanan politik di internal Partai Golkar. Menurutnya, sejarah perjuangan dan kontribusi kader terhadap organisasi seharusnya ikut dipertimbangkan dalam menentukan kepemimpinan partai.
Ia mempertanyakan sejauh mana Syakur Amin sebelumnya terlibat dalam perjuangan membesarkan Partai Golkar, terutama dalam menghadapi persaingan politik dan perebutan suara.
“Sejarahnya juga harus dilihat. Syakur Amin belum lama berkiprah dalam membesarkan Golkar. Pada Pemilu 2014, beliau juga belum terlibat dalam kerasnya perebutan suara untuk memenangkan Golkar karena saat itu masih berada di luar Golkar,” ujar Ade.
Menurutnya, kader-kader yang sudah lama berada di dalam partai tentu punya pengalaman, loyalitas, dan sejarah perjuangan yang panjang. Mereka telah melewati berbagai dinamika politik serta bekerja untuk mempertahankan dan memperkuat eksistensi partai.
Dalam pandangannya, kepemimpinan partai tidak cukup hanya dilihat dari popularitas seseorang. Rekam jejak, kontribusi, loyalitas, kemampuan membangun konsolidasi, serta kedekatan dengan struktur partai sampai tingkat bawah juga penting.
Pasangan Santri dan Dukungan Banyak Partai
Ade juga mengingatkan bahwa perjalanan Syakur Amin hingga dipercaya menjadi Bupati Garut tidak bisa dilepaskan dari konteks politik koalisi.
Menurutnya, pasangan Syakur Amin dan Putri Karlina saat mencalonkan diri sebagai kepala daerah mendapat dukungan dari sejumlah partai politik. Hal itu menunjukkan bahwa kemenangan dalam kontestasi kepala daerah merupakan hasil kerja bersama berbagai kekuatan politik.
“Harus diingat, pasangan Santri diusung banyak partai. Jadi kemenangan itu
Harus diingat, pasangan Santri diusung banyak partai. Jadi kemenangan itu bukan cuma hasil kerja satu kelompok atau satu partai,” tegasnya.
Ade menilai, realitas politik tersebut juga perlu dipertimbangkan saat melihat posisi Syakur Amin sekarang.
Masih menurutnya kemenangan dalam pemilihan kepala daerah merupakan hasil gabungan antara figur, pasangan, mesin partai, relawan, dan dukungan masyarakat.
Ia juga menyebut Putri Karlina sebagai salah satu figur yang menurutnya bisa menjadi contoh dalam menyikapi dinamika politik internal partai.
“Langkah Putri Karlina yang tidak ikut-ikutan dalam perebutan ketua partai harus jadi contoh. Begitu juga langkah mantan Bupati Rudy Gunawan yang lebih memilih fokus mengurus rakyat yang telah memilihnya,” kata Ade.
Ade menyinggung mantan Bupati Garut Rudy Gunawan misalnya .Menurutnya, Rudy memilih fokus menjalankan pemerintahan dan mengurus masyarakat saat dipercaya menjadi kepala daerah.
Ade menilai, pilihan itu memberi ruang bagi kepala daerah untuk berkonsentrasi menjalankan tugas pemerintahan tanpa terlalu terseret dalam perebutan kepemimpinan partai.
“Rudy Gunawan bisa jadi contoh. Beliau lebih memilih fokus mengurus rakyat yang telah memilihnya. Hasilnya, beliau bisa menjadi bupati selama dua periode,” ujarnya.
Bagi Ade, jabatan kepala daerah bukan sekadar posisi politik, tetapi juga amanah dengan tanggung jawab besar kepada masyarakat. Karena itu, kepala daerah harus bisa membagi perhatian dengan baik dan tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.
Ia berharap semua pihak bisa melihat dinamika pencalonan Ketua DPD Partai Golkar Garut secara objektif dan tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai sumber perpecahan.
Menurutnya, siapa pun yang nantinya terpilih menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut harus mampu membangun kembali soliditas internal, merangkul seluruh kader, dan memastikan struktur partai bekerja maksimal menghadapi agenda politik berikutnya.
“Yang paling penting, jangan sampai perebutan jabatan ketua malah membuat kader terpecah. Golkar harus tetap jadi partai yang solid dan kuat. Kader yang terpilih harus benar-benar mampu mengayomi seluruh elemen partai,” pungkas Ade Sudrajat.
Pernyataan Ade tersebut menjadi bagian dari dinamika politik menjelang pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut. Sementara itu, terkait jumlah ketua PK yang hadir dalam deklarasi pencalonan Syakur Amin, masih diperlukan konfirmasi dari panitia maupun jajaran DPD Partai Golkar Kabupaten Garut untuk memastikan data kehadiran tersebut.(dng)
