Cerpen penuh liku dan ketabahan dalam Kehidupan dunia


Goresan tinta cerpen Di saat sebagian orang sibuk mengejar kemewahan dengan cara instan, Sesok Bapak Sebut Saja  ( Seladi) memilih jalan yang sunyi dan sering kali dianggap rendah. Bertugas di bagian pembuatan SIM Polres Malang Kota tempat yang sering disebut "lahan basah", Seladi justru memilih untuk tetap "kering" dari uang suap.

Setiap hari, tumpukan uang pelicin dari mereka yang ingin lulus tanpa tes menari nari di depan matanya.

Namun, bagi Seladi, uang itu bukanlah rezeki, melainkan api yang bisa membakar kebahagiaan keluarganya. "Saya takut memberi makan anak istri saya dengan uang haram," ucapnya lirih namun teguh.

Keteguhan hati inilah yang membawanya ke tumpukan sampah setiap sore. Begitu seragam dinas dilepas, ia berubah menjadi sosok lain.

Mengenakan kaos lusuh yang mulai berlubang, ia menembus bau menyengat gudang rongsokan demi memilah botol plastik dan kardus bekas.

Tak jarang, tetangga atau orang sekitar mencibir dan menertawakannya. Bagaimana mungkin seorang polisi tega mengorek sampah? Namun, bagi Seladi, tawa mereka tidak lebih menyakitkan daripada pengkhianatan terhadap sumpah jabatan. 

Baginya, tangan yang kotor karena sampah jauh lebih terhormat daripada tangan yang bersih tapi menerima uang haram.

"Memulung itu kotor di mata manusia, tapi mulia di mata Tuhan daripada korupsi," adalah prinsip yang ia bawa hingga masa pensiunnya tiba.

Seladi telah pensiun, namun warisannya abadi. Ia mengingatkan kita semua bahwa kehormatan sejati tidak terletak pada mobil mewah atau jabatan tinggi, melainkan pada ketenangan hati saat kita memberikan suapan nasi yang benar-benar halal untuk orang-orang tersayang." Penulis ( Roli )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama