Kegiatan belajar mengajar di SDN Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, berlangsung dalam kondisi memprihatinkan. Para siswa terpaksa belajar di ruang kelas yang mengalami kerusakan parah dan terancam roboh, sehingga menimbulkan rasa takut setiap harinya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah bagian bangunan sekolah terlihat mengalami keretakan serius pada dinding, plafon yang mulai lapuk, serta atap yang tampak tidak lagi kokoh. Bahkan, saat hujan turun disertai angin kencang, siswa dan guru diliputi kekhawatiran bangunan tersebut akan ambruk sewaktu-waktu.
Salah seorang guru yang namanya enggan dicantumkan mengungkapkan, bahwa kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan.
“Kami khawatir dengan keselamatan anak-anak. Tapi kegiatan belajar tetap harus berjalan karena tidak ada alternatif ruangan kelas lain. Kami berdoa tidak terjadi hal-hal yang diinginkan,". Katanya.
Para siswa pun mengaku merasa tidak nyaman saat mengikuti pelajaran. Mereka sering terganggu oleh suara retakan bangunan, bahkan ada yang memilih duduk dekat pintu agar bisa segera keluar jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ( Disdikpora ) Kabupaten Cianjur untuk segera melakukan renovasi atau pembangunan ulang gedung sekolah. Mengingat keselamatan siswa dan tenaga pengajar merupakan hal yang utama.
Sementara itu, beberapa waktu lalu, Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ruhly Solehudin pernah menjelaskan, sejak 2022 pihaknya telah melakukan pendataan sekolah rusak, ada 2.500 ruang kelas dan ribuan lainnya rusak sedang dan ringan.
" Kemungkinan jumlah sekolah rusak terus bertambah. Tapi yang menjadi skala prioritas, sekolah rusak akibat bencana alam, tahun 2025 akan mendapat perbaikan.
Ruhly menjelaskan, data bangunan sekolah yang rusak berat di Kabupaten Cianjur sekitar 2.500 bangunan, rusak sedang 1.500 bangunan dan rusak ringan sekitar 2000 sekolah.
Jumlah tersebut, di luar kekurangan ruang kelas baru yang mencapai 1.100 ruang kelas, akibat dari peningkatan jumlah peserta didik setiap tahunnya.
" Di Kabupaten Cianjur, lebih kurang 250 ribu siswa SD Negeri dan swasta, belum mempunyai bangku atau ruang kelas sendiri," ujarnya.
" Untuk mengurangi kekurangan ruang kelas baru, pihaknya mengajukan permohonan bantuan kerjasama dengan Kementrian PUPR, akibat keterbatasan anggaran daerah dan dana alokasi umum ( DAU ). Kami butuh bantuan dari kementrian dengan harapan segera tuntas," pungkasnya.
Eyang.



