Bandung, Mungkin tulisan ini tidak semua setuju, namun bisa mewakili suara sebagian publik, saya mencoba melakukan analisa dan pengamatan sejak presiden Prabowo Subianto memimpin pemerintahan, ada hal yang patut kita koreksi tentu dengan pertimbangan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Dari banyak keluhan rakyat dengan berbagai lapisan profesi, minimal ada dua hal yang muncul, pertama mereka mengeluhkan susahnya mencari penghasilan, uang sulit di dapat, kedua daya beli masyarakat melemah banyak usaha usaha yang turun omzet bahkan nyaris tutup.
Pedagang kecil, usaha mikro, bisnis jasa serta sektor lainnya yang bersentuhan langsung dengan rakyat kecil bernasib sama, lalu timbul pertanyaan apa penyebabnya?
Kalau di telisik setidaknya dari berbagai kebijakan, serta program presiden Prabowo Subianto memberi dampak significan terhadap permasalahan diatas, pertama dengan genjarnya pemberantasan tindak pidana korupsi dari berbagai sektor, dan diiringi penghematan dan pemangkasan anggaran negara hingga berdampak ke daerah, menyebabkan peredaran uang berkurang di lapisan rakyat, uang kartal ( tunai) hampir di pastikan menurun tajam dan ini yang menjadi nafas masyarakat kecil mereka selalu menggunakan uang tunai dalam setiap transaksi atau keperluan.
Banyaknya perilaku korupsi yang di lakukan birokrasi menyebabkan uang banyak beredar, dari berbagai instansi vertikal maupun instansi daerah, karena mereka yang korupsi pasti sebagian hasil korupsinya di belanjakan ini fakta selama ini terlihat, dengan pengetatan dan penghematan anggaran ruang untuk korupsi nyaris tertutup.
Kemudian program pembentukan lembaga Danantara (Daya Anagata Nusantara) adalah lembaga pengelola investasi negara yang mengelola aset 7 BUMN Besar di Indonesia dengan nilai investasi aset US$900 miliar atau sekitar Rp14.715 triliun, dan ini menyebabkan uang mengendap, karena ini adalah program jangka panjang, sedangkan rakyat hidup di hari ini, sebagian besar rakyat bergantung di perputaran ekonomi yang cepat dari waktu ke waktu, dengan asumsi Danantara akan melakukan investasi mencari perusahaan- perusahaan besar, ini belum terasa dampaknya ke rakyat kecil yang puluhan juta hidup bergantung di sektor riil
Kemudian program Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP) ini juga belum di rasakan dampaknya bagi masyarakat, termasuk program unggulan MBG banyak menuai kritikan karena secara
Nyata hanya di nikmati oleh sebagian kecil masyarakat atau pengusaha.
Yayat wtp
