Kepala Kemenag Garut Dorong Kolaborasi, Penyuluh untuk Tekan Angka Perceraian Di Kabupaten Garut .

GARUT. WARTA TNI POLRI.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut, H. Hamzah Rukmana, S.Ag., M.A., menyoroti angka perceraian sebagai salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama Jajaran Kemenag Garut.

Hal itu disampaikan H. Hamzah Rukmana saat menjadi narasumber dalam kegiatan Ngopi Pagi atau Ngobrol Peradaban Islam Bersama Penyuluh Agama yang digelar Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam. Bertemoat di Aula Atas Kantor Kemenag Garut, Kamis (10/09/2026).

Menurut H. Hamzah Rukmana, penurunan angka perceraian menjadi salah satu arahan yang perlu diterjemahkan ke dalam Program Kerja melalui Kolaborasi antar Jajaran.

Ia mengatakan, persoalan tersebut perlu ditangani secara bersama-sama.

Kemenag menyebut data mengenai angka perceraian antara lain bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pengadilan Agama.
Ia kemudian mendorong Jajaran Bimas Islam untuk menyusun langkah yang dapat berkontribusi terhadap penurunan angka perceraian di Garut.

Pihaknya bahkan menyampaikan keinginan agar posisi Garut dalam persoalan angka perceraian dapat ditekan hingga berada di luar 10 besar di Jawa Barat.

“Walaupun ini sesuatu yang berat, tapi kalau Bersama-sama dan Kolaborasi Insyaallah tidak akan berat,” katanya.

Penyuluh Diminta Perkuat Kolaborasi
H. Hamzah Rukmana menilai Penyuluh Agama memiliki posisi penting dalam Upaya Pelayanan dan Pembinaan Masyarakat.

Karena itu, kerja penyuluh tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan tugas masing-masing, tetapi juga membangun jejaring ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan bersama.

Ia mengajak jajaran Kemenag menggunakan semangat “Garut” yang dimaknainya sebagai Guyub, Amanah, Ramah, Unggul, dan Tulus.

Menurut H. Hamzah Rukmana, Guyub berarti bekerja bersama untuk tujuan yang sama, bukan sekadar berada dalam pekerjaan yang sama.

“Bukan hanya sama-sama kerja, tetapi bekerja sama,” ujarnya.

Ia memberi gambaran, ketika  Penyuluh menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan sendiri, persoalan tersebut dapat dikomunikasikan secara berjenjang melalui Koordinator, Kepala Seksi hingga Pimpinan untuk dicari Solusinya.

Pendekatan Kolaboratif itu, kata Ia, juga dapat diterapkan dalam berbagai isu Pembinaan masyarakat, termasuk Ekoteologi, Moderasi beragama dan Program Bimas Islam.

Tekankan Amanah dan Pelayanan
Dalam kesempatan tersebut, Kemenag juga mengingatkan Jajaran Kemenag mengenai pentingnya menjalankan Jabatan sebagai Amanah.

Menurutnya, Jabatan Aparatur Negara memiliki batas waktu.
Karena itu, Amanah yang diterima dari Negara harus dikembalikan dalam bentuk Pelayanan kepada masyarakat.

“Kita adalah Pelayan Umat, Pelayan masyarakat. Termasuk saya juga siap untuk melayani,” katanya.

H. Hamzah Rukmana menegaskan dirinya tidak ingin jajaran Kemenag hanya berorientasi untuk dilayani, tetapi harus menempatkan pelayanan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Ia juga mengingatkan pentingnya Transparansi, terutama terhadap Informasi yang memang menjadi hak Publik.

Menurutnya, Kegiatan dan Informasi yang bermanfaat bagi masyarakat perlu dikomunikasikan secara terbuka melalui Canal Informasi yang tersedia.

Namun, Ia membedakan Informasi Publik dengan Informasi yang memang memiliki sifat terbatas atau rahasia, termasuk Dokumen tertentu dan Informasi Kepegawaian.

Karena itu, Ia meminta seluruh jajaran memahami batas antara keterbukaan Informasi Publik dan Informasi yang memang harus dilindungi.
Dorong Pelayanan yang Ramah
Selain Guyub dan Amanah, Kemenag  menekankan pentingnya pendekatan ramah dalam pelayanan masyarakat.

Ia mengaitkan prinsip tersebut dengan nilai Rahmah dalam ajaran Islam.

Menurutnya, semangat kasih sayang perlu menjadi dasar dalam berinteraksi dengan masyarakat, termasuk ketika Penyuluh menjalankan Tugas di lapangan.

“Berangkat dari rasa menyayangi, karunya, dalam melakukan sesuatu akan memiliki nilai yang lebih dalam,” ujarnya.

Ia berharap pendekatan ramah tersebut dapat memperkuat
“Berangkat dari rasa menyayangi, karunya, dalam melakukan sesuatu akan memiliki nilai yang lebih dalam,” ujarnya.

Ia berharap pendekatan ramah tersebut dapat memperkuat kualitas pelayanan sekaligus membuat keberadaan Kemenag semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

H. Hamzah Rukmana juga menekankan pentingnya membangun Keunggulan dan Prestasi secara bersama-sama.

Namun, Ia mengingatkan agar penghargaan terhadap pekerjaan tidak hanya diukur dari Penghargaan Formal.

Ia meminta ASN tetap menjalankan Tugas secara Profesional, termasuk memenuhi ketentuan Waktu Kerja dan Aturan Kedinasan.

Di akhir arahannya, H.Hamzah kembali mengajak seluruh jajaran Kemenag Garut untuk memperkuat sinergi.

Ia menilai Forum Ngopi Pagi penting sekali sebagai ruang untuk menyamakan persepsi, membangun komunikasi dan memperkuat hubungan antar Penyuluh serta Jajaran Kemenag.

“Tidak ada hari tanpa belajar. Saya pun terus belajar kepada Bapak dan Ibu. Banyak ilmu yang saya terima hari ini,” katanya.

H. Hamzah Rukmana berharap semangat Guyub, Amanah, Ramah, Unggul dan Tulus tersebut tidak berhenti sebagai slogan saja, tetapi harus menjadi Budaya Kerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,pungkasnya. ( DNG )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama