Garut Utara di Ujung Pena Sang Pejuang yang Tangguh di Garda Depan Bersama Kita Bisa



Garut,wartatnipolri.net
Kalimat sederhana itu bukan sekadar slogan bagi Aep Saepudin, S.Ag, melainkan semangat perjuangan yang ia jalani sepanjang hidupnya — baik sebagai pendidik, jurnalis, organisatoris, maupun pejuang Garut Utara.

Di tengah panjangnya perjuangan pembentukan Garut Utara, ada nama-nama yang tidak selalu tampil di panggung utama, tetapi menjadi penggerak penting di balik denyut perjuangan. Salah satunya adalah Aep Saepudin, S.Ag — sosok yang konsisten berada di garis depan perjuangan masyarakat.

Lahir di Garut pada 11 Mei 1969, Aep Saepudin tumbuh dari lingkungan masyarakat sederhana dengan semangat pendidikan dan pengabdian yang kuat. Beralamat di Kampung Salam I, RT 01/05 Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, perjalanan hidupnya memperlihatkan perpaduan antara dunia pendidikan, gerakan sosial, dan perjuangan kewilayahan.

Dalam perjalanan perjuangan Garut Utara, nama Aep Saepudin bukan sosok asing. Ia termasuk bagian dari generasi pejuang yang ikut mengawal lahirnya gagasan pembentukan Kabupaten Garut Utara sejak fase awal. Ketika perjuangan masih dipandang sebagai mimpi panjang, ia sudah berada di dalam barisan.

Perannya tercatat dalam berbagai posisi strategis:

Bendahara P3KGU (Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Garut Utara),

Tim Perumus Proposal CDOB Kabupaten Garut Utara,

serta Ketua III PM GATRA.

Di titik inilah ketangguhannya terlihat. Ia bukan hanya hadir dalam rapat dan forum, tetapi ikut menyusun narasi perjuangan, membangun komunikasi publik, dan menjaga api aspirasi masyarakat agar tidak padam oleh perubahan zaman maupun dinamika politik.

Sebagai seorang jurnalis, Aep Saepudin memahami bahwa perjuangan tidak cukup hanya dilakukan di ruang kekuasaan. Perjuangan juga harus hidup di ruang informasi dan kesadaran masyarakat. Karena itu, jejaknya hadir di berbagai media, mulai dari Surat Kabar Umum Bandung Raya, Tabloid Umum Otentik, Harian Pelita Indonesia, Majalah Suara Garut, hingga media online Fokus Priangan dan Mahkota Indonesia.

Baginya, pena bukan sekadar alat menulis, tetapi alat perjuangan.

Melalui tulisan-tulisannya, isu Garut Utara terus dijaga agar tetap hidup dalam ingatan publik. Ia memahami bahwa banyak perjuangan besar runtuh bukan karena kalah argumentasi, tetapi karena kehilangan suara dan dokumentasi sejarah.

Di luar PM GATRA, kiprah organisasinya juga sangat luas. Ia pernah aktif sebagai:

Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Garut,

Ketua MPC FAHMI TAMAMI Kabupaten Garut,

Sekretaris DPC HIPWI Kabupaten Garut,

Ketua DPC FAGAR Kecamatan Cibatu,

Ketua Forum Ketahanan Pangan Kecamatan Cibatu,

hingga pernah menjadi pengurus partai politik di tingkat kabupaten.

Pengalaman lintas organisasi itu membentuk dirinya menjadi figur yang memahami denyut masyarakat akar rumput sekaligus dinamika kebijakan publik.

Namun di atas semua itu, identitas terkuatnya tetap sebagai seorang pendidik. Dunia pendidikan menjadi jalan pengabdiannya sejak lama:

Guru SD dan SMP Muhammadiyah Kemayoran Jakarta,

Guru SD Muhammadiyah 1 Cibatu,

Guru SMP Al Madinah Cibatu,

Kepala Sekolah SMA Al Madinah Cibatu,

hingga menjadi guru di SMAN 3 Garut dan SMKN 1 Garut.

Dari ruang kelas hingga ruang perjuangan sosial, Aep Saepudin menunjukkan satu hal penting: bahwa perjuangan besar tidak selalu lahir dari orang yang paling terkenal, tetapi sering lahir dari orang-orang yang paling setia menjaga perjuangan tetap berjalan.

Dalam perjalanan panjang Garut Utara, sosok seperti Aep Saepudin adalah bagian dari jejak sejarah itu sendiri — pejuang yang mungkin tidak banyak berbicara tentang dirinya, tetapi banyak bekerja untuk cita-cita bersama.

Dan di ujung penanya, harapan tentang Garut Utara terus ditulis, dijaga, dan diperjuangkan.

Red

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama